• Dalam rangka menyambut hari Ulang Tahun DKI Jakarta ke-492, lebih dari 300 petugas PPSU kelurahan Jatinegara dan kecamatan Pulogadung dikerahkan dalam kerja bakti di Makam Pangeran Jayakarta, Masjid Assaalsfiyah pada hari Rabu
  • Warga senior Jakarta Timur pasti mengingat Butet sebagai salah satu bioskop independen yang tersisa, dan masih menggunakan rol film 35 milimeter konvensional.
  • "Dari dulu kami sekeluarga tak mau buang sampah di sungai. Kami tahu nanti itu bikin kotor dan banjir," ujar Nanang, yang juga ketua RT011 RW008 Kelurahan Jatinegara di Jakarta.
  • Awalnya, Jatinegara merupakan hutan belukar yang banyak ditumbuhi pohon jati. Di tempat inilah Pangeran Jayakarta melarikan diri dari kota Jayakarta pada tanggal 30 Mei 1619 setelah dikalahkan oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen.
  • Bagi Singapura, taman adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga.
  • Warga perumahan Jatinegara Indah dan apartemen East Park selenggarakan pemilihan ketua Rukun Warga (RW) untuk periode 2017-2020 di Balai Pertemuan Warga pada hari Sabtu, 23 Desember 2017.

Selasa, 20 Juli 2021

Jakarta Timur Masih Puncaki RT dengan Zona Rawan Corona se-DKI Jakarta


Hingga Senin 
(19/7/2021), Jumlah RT DKI Jakarta yang berada di zona rawan Corona terus bertambah. 

Terbanyak berada di Jakarta Timur dengan 3.837 RT, disusul Jakarta Barat dengan 3.821 RT.

Sementara jumlah RT zona rawan COVID-19 Jakarta Selatan juga menembus 3 ribu yaitu 3.181. Adapun jumlah RT zona rawan terendah berada di Kepulauan Seribu dengan 43 RT.

Sementara itu, kasus baru COVID-19 DKI Jakarta disalip Jawa Barat. DKI menyumbang 5 ribu kasus baru Corona sementara Jawa Barat melaporkan 7.287 kasus baru COVID-19.

Berdasarkan data yang dihimpun corona.jakarta.go.id per periode 19 Juli hingga 26 Juli ada 245 RT zona rawan Corona DKI Jakarta yang masuk zona merah. Berikut daftarnya khusus Jakarta Timur:

  • KEL. BALE KAMBANG, RT 011, RW 003
  • KEL. BALE KAMBANG, RT 007, RW 005
  • KEL. BALE KAMBANG, RT 005, RW 001
  • KEL. BALE KAMBANG, RT 009, RW 002
  • KEL. BALE KAMBANG, RT 001, RW 005
  • KEL. BALE KAMBANG, RT 004, RW 004
  • KEL. BALE KAMBANG, RT 009, RW 004
  • KEL. BALE KAMBANG, RT 008, RW 001
  • KEL. BATU AMPAR, RT 006, RW 005
  • KEL. BATU AMPAR, RT 008, RW 004
  • KEL. BATU AMPAR, RT 001, RW 004
  • KEL. CEGER, RT 002, RW 001
  • KEL. CEGER, RT 003, RW 005
  • KEL. CILANGKAP, RT 001, RW 001
  • KEL. CILANGKAP, RT 005, RW 006
  • KEL. CILANGKAP, RT 006, RW 003
  • KEL. CIPAYUNG, RT 004, RW 003
  • KEL. CIPAYUNG, RT 005, RW 002
  • KEL. CIPAYUNG, RT 006, RW 006
  • KEL. CIPINANG BESAR SELATAN, RT 003, RW 008
  • KEL. CIPINANG BESAR UTARA, RT 007, RW 010
  • KEL. DUKUH, RT 010, RW 004
  • KEL. JATINEGARA KAUM, RT 010, RW 001
  • KEL. JATINEGARA KAUM, RT 002, RW 004
  • KEL. JATINEGARA KAUM, RT 011, RW 003
  • KEL. KAMPUNG TENGAH, RT 011, RW 004
  • KEL. KAMPUNG TENGAH, RT 003, RW 001
  • KEL. KAMPUNG TENGAH, RT 002, RW 001
  • KEL. KAMPUNG TENGAH, RT 001, RW 001
  • KEL. KAMPUNG TENGAH, RT 001, RW 008
  • KEL. KAMPUNG TENGAH, RT 003, RW 002
  • KEL. KAMPUNG TENGAH, RT 002, RW 003
  • KEL. KAMPUNG TENGAH, RT 007, RW 001
  • KEL. KELAPA DUA WETAN, RT 008, RW 012
  • KEL. KRAMAT JATI, RT 001, RW 004
  • KEL. LUBANG BUAYA, RT 001, RW 010
  • KEL. LUBANG BUAYA, RT 006, RW 006
  • KEL. LUBANG BUAYA, RT 007, RW 002
  • KEL. LUBANG BUAYA, RT 005, RW 005
  • KEL. LUBANG BUAYA, RT 005, RW 011
  • KEL. LUBANG BUAYA, RT 009, RW 002
  • KEL. MUNJUL, RT 005, RW 002
  • KEL. MUNJUL, RT 006, RW 006
  • KEL. MUNJUL, RT 010, RW 003
  • KEL. PISANGAN TIMUR, RT 004, RW 013
  • KEL. PONDOK BAMBU, RT 012, RW 007
  • KEL. PONDOK KELAPA, RT 002, RW 002
  • KEL. SETU, RT 002, RW 001
  • KEL. SETU, RT 005, RW 001



Sabtu, 05 Juni 2021

Betawi Dulu Kemudian Bandung Ibu Kota Jawa Barat

Tahun 1925, menjadi saat-saat kurang beruntung bagi Bupati Bandung, Wiranatakusumah V. Sejak 1924, Wiranatakusumah yang sudah begitu giat meyakinkan seluruh anggota Volksraad, agar Bandung jadi ibu kota Jawa bagian barat ternyata gagal.

Padahal persoalan itu setiap tahunnya terus digodok, Wiranatakusumah bersikuku memenangkan hati para anggota dewan supaya keinginan menjadikan Bandung sebagai ibu kota bisa tercapai atas kesepakatan yang disetujui oleh seluruh dewan. Gagal meskipun ia telah menjadi wakil Volksraad tahun 1923, ia berpidato dengan panjang lebar disertai usulan-usulan.

Isu Bandung menjadi ibu kota Jawa Barat memang bukan main-main. Sebagian dewan rakyat dari kalangan Belanda turut pula berdebat. Saling silang pendapat terjadi dengan cukup alot. Pada sidang volksraad 18 Juli 1925, Kerkamp dan Helsdingen ikut meramaikan penentuan ibu kota itu. Keduanya mempunyai argumen yang saling bertolak dalam menyikapi persoalan tersebut. Surat kabar Darmokondo edisi Sabtu 15 Agustus 1925 mengabarkan, jika Kerkamp menolak dengan gaya mencela terkait isu ibu kota Jawa Barat yang akan berada di Bandung itu. Sedangkan Helsdingen menerima usulan itu dengan pikiran senang dan terbuka.

Dikutip dari Obor edisi Juli 1924, beberapa saat sebelum isu ibu kota ini mencuat, Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan bahwa akan terjadi perubahan dalam struktur kewilayahan. Untuk Pulau Jawa dan Madura dibagi menjadi 17 keriesidenan dengan dikepalai oleh Residen. Namun, Pemerintah telah membagi Pulau Jawa (Madura) ke dalam tiga wilayah provinsi, yaitu, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Lalu untuk wilayah Jawa Barat terdapat empat keresidenan: Banten, Betawi Priangan dan Cirebon dengan dipimpin oleh satu orang Gubernur provinsi. Adapun dari keempat residen itu terdapat beberapa Kabupaten yang akan ditetapkan, seperti Serang, Pandeglang, Lebak, Betawi (Batavia), Mr. Cornelis, Bogor, Karawang, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Cirebon, Kuningan, Indramayu dan Majalengka.

Ketika perbedaan pendapat terjadi di kalangan dewan, Wiranatakusumah V nampaknya tak bisa berkutik karena kekurangan suara untuk mendukung usulan yang sama. Bahkan, jumlah anggota yang tergabung dalam Volksraad itu, mayoritas orang-orang Belanda yang menginginkan pula ibu kota Pasundan berada di Batavia. Akhirnya keputusan dewan menetapkan, bila ibu kota Jawa bagian barat  berada di kawasan Betawi. Maka, pada bulan Agustus 1925, wilayah Bandung yang diupayakan oleh Wiranatakusumah sebagai bupati Bandung batal menjadi ibu kota. Pengumuman itu dikabarkan juga oleh surat kabar Darmokondo 25 Agustus 1925.

“Sebagaimana telah dikabarkan, regen Bandoeng poenja porstel jang menghendaki soepaja Bandoeng mendjadi tempat kedoedoekannja goebernoer provinsi ‘Pasoendan’ dalam volksraad telah diterima baik, hingga waktoe boepati Bandoeng poelang kembali dari Betawi ke Bandoeng, disana ia soedah disamboet dengan kehormatan jang gembira. Sekarang goepernoer-djenderal dengan dimoepakati oleh Raad van Indie (Dewan Hindia) soedah tetapkan soeatoe oendang, bahwa dalam raad provinsi itoe bakal doedoek anggota dari bangsa Bp. Dan dari bangsa Belanda sama djoemlahnja, jaitoe masing-masing 20 orang dan Betawi dioendjoek sebagai iboe kota dari provinsi Djawa Barat alias ‘Pasoendan’ itoe”.

Pasca berita yang tersiar mengenai batalnya Bandung menjadi ibu kota Pasundan, beragam respon muncul dengan ditujukan kepada Wiranatakoesoemah. Kendati sang bupati disambut hangat dan meriah oleh masyarakat setelah kedatangannya dari Betawi, tapi kekalahan telak yang ia dapatkan di Volksraad dimanfaatkan oleh kalangan kelompok merah untuk menyindirnya.

Pada surat kabar Soerapati 8 Agustus 1925, salah satu tulisan muncul menggunakan judul yang begitu mengejek. Kaum Komunis merayakan kekalahan Muharam Wiaranatakusumah di Betawi dengan ejekan kepada sang bupati: “Gouverneur Tjitjing di Bandoeng? Moeharam Wiranatakoesoemah Njieun Reclame? Api-api Rajat Milu Soeka? Antjoen…Ngegel Tjoeroek! Teu Pajoe…Alias Keok! (Gubernur bertempat di Bandung? Moeharam Wiranatakoesoemah Bikin Reklame? Pura-pura Rakyat Ikut Senang? Malu…sambil gigit telunjuk! Gak Laku…Alias Kalah!

Tentu saja, sindiran tersebut diketahui sang bupati. Tapi sayangnya, surat kabar Obor sudah tidak lagi beroperasi sampai akhir 1924. Biasanya, para pengikut Wiranatakusumah kembali melancarkan serangan melalui Obor. Namun, di luar urusan polemik ini, bagaimana pun terdapat persoalan yang tak mungkin ditutupi.

Muharam  Wiaranatakusumah telah gagal sebagai anggota Volksraad. Sebab ada dua usulan yang ia usulkan kemudian ternyata juga tidak dikabulkan oleh forum dewan rakyat. Ini semakin bikin limbung lantaran sebelumnya ia sudah menerima pukulan telak, yaitu alih-alih Bandung menjadi ibu kota Jawa Barat yang diidam-idamkan, malah Betawi yang jadi ibukotanya. Malu betul alias isin pisan.

Sumber: SejarahJakarta.com


Rabu, 12 Mei 2021

Lembaga Investigasi dan Pengawasan Aset Negara Duga Maladministrasi di Kasus Tanah JI



Akhir tahun 2020, kantor Lembaga Investigasi dan Pengawasan Aset Negara (LIPAN RI)  menerima pengaduan dari puluhan warga Perum Jatinegara Indah di RT 10/RW09, Kelurahan Jatinegara, Cakung, Jakarta Timur.  

Warga sudah berpuluh tahun menempati lahan degan bukti kepemilikan surat girik adat. Dalam rangka mendapatkan kepastian hukum atas status tanah mereka terkait program layanan PTSL pemerintah presiden Joko Widodo, warga berinisiatif mengurus kepemilikan lahan dalam bentuk sertifikat. 

Warga mengajukan permohonan melalui Rukun Warga dilanjutkan dengan proses pengukuran di lapangan oleh petugas ukur dari kantor BPN Jakarta Timur hingga diterbitkan peta bidang. 

Akan tetapi, dalam perjalanan waktu, diketahui bahwa sertifikat tidak dapat diterbitkan atas alasan tumpah tindih dalam kepemilikan lahan menurut  pejabat BPN Jakarta Timur. 

Tentu warga tidak dapat menerima keterangan tersebut dan melaporkan kasus ini ke Lipan RI.

Lipan RI menindaklanjuti aduan warga dengan berkoordinasi dan melakukan investigasi terkait objek lahan tersebut terhadap beberapa pihak terkait. Hasil investigasi tim Lipan RI menemukan berbagai kejanggalan di lapangan antara lain bahwa pada objek lahan milik warga tersebut terdapat adanya pemohon HPL atas nama Abd Kadir Badjeeber yang  dalam hitungan minggu. Secara tiba-tiba telah terbit juga sertifikat Hak Pengelolaan Lahan (HPL) dalam kurun waktu 4 April 2020 – 17 April 2020. Adapun  dasar permohonan yang bersangkutan adalah penggantian blanko dari yang lama ke yang baru.  Sementara itu, ahli waris dari pemilik surat girik tersebut telah mengajukan pembuatan sertifikat atas tanah tersebut dari tanggal 8 Agustus 2019 dan atas lahan tersebut belum pernah beralih atau di perjualbelikan kepada pihak manapun.

Hasil investigasi terhadap Geo KKP BPN RI juga menemukan kejanggalan. Diduga dalam proses penerbitan HPL  terindikasi adanya mal administrasi yang dilakukan oleh oknum Pejabat BPN Jakarta Timur. Kasus ini tengah diusut lebih lanjut oleh Lipan RI. 

Sumber: Lipan-RI.org

4 Restoran Timur Tengah di Jakarta Timur



Anda kangen masakan Arab dan Timur Tengah? Jangan khawatir, Anda bisa ke beberapa restoran Timur Tengah terdekat di bilangan Jakarta Timur. Tinggal pilih sesuai makanan yang maui dan suasana yang diinginkan. 


Abunawa Resto

Alamat

Jl. Matraman Nomor 15, Jakarta Timur

Recommended food

Hummus, Nasi Mandhi, Baklava, dan Adhani Tea. 

Suasana ruangan ala Timur Tengah. Tersedia paket rombongan dan keluarga mulai Rp 450.000 per paket.


Ajwad Resto 

Alamat

Jalan Raya Condet Nomor 50 Kramat jati, Jakarta Timur.

Recommended food 

Kambing bakar madu dengan bumbu Timur Tengah, roti khobus, dan berbagai olahan laham. 

Jam buka pukul 09.00 WIB hingga 20.00 WIB. 

Paket rombongan (6-7 orang) harga mulai Rp 999.000. 



Alsadda Restoran 

Alamat

Jalan Otista Raya Nomor 70/30 Jakarta Timur. Buka tiap pukul 11.00 hingga 23.00 WIB.

Recommended food

lamb madhbi, lamb mandi, mandi rice, kabsah rice, dan chicken shawaya. 

Paket 5 orang mulai Rp 550.000 



Restoran Hadramiah 

Alamat

Jalan Pramuka Nomor 64 Matraman, Jakarta Timur.

Recommended food

Nasi kebuli kambing bakar, mandhi mix kabsah, maqluba lamb dan tuna, serta nasi kebuli dan mandhi praktis. 

Paket mulai Rp 190.000 hingga paket 30 senilai Rp 2.550.000. 


Sumber: kompas.com

Minggu, 09 Mei 2021

Jalan-jalan di Jakarta Tempo Doeloe dalam Video



Kali ini, redaksi JatinegaraIndah.com mengajak pembaca untuk berjalan-jalan di Jakarta Tempo Doeloe secara virtual lewat lorong waktu. Berbagai video berikut menggambarkan berbagai suasana dan kawasan. 

Terima kasih untuk para pembuat/perangkai video Jakarta, semoga video-video tersebut senantiasa mengingatkan warga Jakarta untuk tidak lupa pada sejarah kotanya sendiri dan mencintainya. 

Selamat menonton. 

1. Kita mulai dengan perjalanan dari Salemba Raya ke Matraman Raya, Jakarta Timur


2. Terus melihat-lihat foto-foto desa Kalisari, Pasar Rebo tempo dulu


3. Klender, Glodok, Jatinegara 1900 an


4. 42 foto Jakarta era 1870-1970



5. Jakarta Sebelum Jadi Kota


6. Glodok 1928


7. Foto landmark Jakarta Tempo Doeloe

Pondok Kopi (Konon) Kebon Kopi Pertama Indonesia

Tahukah Anda, konon, tanaman kopi pertama Indonesia ditanam di kawasan yang kini dikenal sebagai Pondok Kopi, Jakarta Timur? Meskipun sekarang ini tak ada lagi tanaman atau perkebunan kopi di wilayah yang sekarang telah menjadi pemukiman padat ini, nama Pondok Kopi terlanjur menjadi nomenklatur wilayah sebagaimana diresmikan pada 17 Januari 1982.

Berawal dari tahun 1696, Walikota Amsterdam Nicholas Witsen memerintahkan komandan OC di Pantai Malabar, Adrian van ommen untuk membawa bibit kopi ke Batavia. Bibit kopi ini kemudian diujicoba pertama kali di lahan pribadi Gubernur Jenderal VOC Willem van Outhoorn di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Bibit kopi ini kemudian tumbuh subur dan menghasilkan buah yang bisa dipanen. Biji kopi dari hasil panen pertama kebun ini kemudian dibawa ke Hortus Botanicus Amsterdam.

Sayangnya penanaman kopi di kawasan Pondok Kopi ini tak berjalan mulus karena kebun kopi dilanda banjir yang akhirnya merusak tanaman. Kemudian pada 1699, bibit kopi kembali didatangkan namun penanamannya diperluas ke Jawa Barat.

Menurut pengguna akun twitter @penangkar_benih yang mengunggah kisah dan sejarah panjang soal sejarah perkopian Indonesia pada 11 Juni 2020, mulai dari kawasan Pondok Kopi, kebun kopi semakin luas dan menjelajah ke banyak daerah di Indonesia. Tak disangka, ternyata para biolog di Hortus Botanicus Amsterdam kagum dengan kualitas kopi Jawa.

Para biolog ini mengatakan kalau kopi Jawa punya kualitas dan cita rasa yang unik dan berbeda dengan kopi yang pernah mereka coba. Mengetahui hal ini, kemudian para ilmuwan mengirim contoh kopi Jawa ke berbagai kebun raya yang ada di Eropa.

"Seiring berjalannya waktu, istilah a Cup of Java muncul di dunia barat, hal ini mengesankan kopi Indonesia identik dengan Kopi Jawa, meskipun masih terdapat kopi nikmat lainnya seperti kopi Sumatera dan kopi Sulawesi. Kopi yang ditanam di Pulau Jawa pada umumnya adalah kopi Arabika," tulis akun ini.

Setelah dilanda banjir hebat yang merusak kebun kopi, kawasan ini kemudian tak pernah lagi ditanami kopi. Bibit kopi kemudian dibudidayakan di wilayah Priangan, Jawa Barat.

Pondok Kopi dulunya dikenal dengan sebutan Desa Kopi, saat itu desa ini masuk dalam bagian Desa Malaka. Karena sulit membedakan antara Desa Kopi dan Desa Malaka, akhirnya warga sepakat mengganti nama Desa Kopi dengan sebutan Pondok Kopi. Nama ini masih digunakan sampai sekarang.

Kini kawasan Pondok Kopi memiliki luas wilayah 2,06 km2 dengan area yang kini dipadati perumahan penduduk.


sumber: Detikfood.com dan lain lain. 

Suasana Pondok Kopi sekarang ini beserta sejarah kopi itu bisa disaksikan juga di video di bawah ini yang dikisahkan oleh seorang warga Jakarta. 
 


Sabtu, 08 Mei 2021

Masjid Tertua di Jakarta Timur: Jami Al Anwar Jatinegara

Penutur sejarah Masjid Jami Al Anwar, Muhammad Rasyid mengungkap asal muasal sejarah Masjid Jami Al Anwar sebagai  tempat ibadah satu-satunya di Jatinegara di masa lampau.

Konon didirikan oleh Datuk Umar atau biasa disebut Datuk Biru, masjid ini kabarnya dibangun sekitar abad ke-18, atau ada yang mengatakan pada masa sebelum itu. 

Pondasi, pintu hingga mimbar di Masjid Jami Al Anwar, Jatinegara, Jakarta Timur yang berumur ratusan tahun itu telah beberapa kali dipugar. 

Rasyid menuturkan pada masanya masjid ini berada di tengah hutan dan area persawahan karena pemukiman masih jarang. Para ulama menganggap perlu membangun masjid sederhana bagi masyarakat untuk beribadah. 

"Jadi menurut dokumen yang pernah saya tahu dari peninggalan KH Abdul Salam Bin Hasni bin Husen Bin Adnan renovasi yang ke-10 saja 1930-1934. Itu zaman Belanda. Masjid ini sudah ada tahun 1700-an dan kemungkinan juga sebelum itu,” katanya sebagaimana dikutip Tribunjakarta.com. 

Setelah melalui kesepakatan bersama, akhirnya para warga desa melakukan urunan atau patungan untuk menyumbangkan pondasi masjid.


Sekiranya ada 12 desa pada masa itu yang menyumbangkan 12 tiang kayu jati asli Jawa Timur.

"Tiang 12 ini asli. Jadi dulu satu desa urunan satu tiang. Itu kayu jati dari Jawa Timur. Jadi masjid ini sudah sangat tua sekali. Aslinya tiang 12, dibangun oleh 12 desa," lanjutnya.

Selanjutnya, enam pintu kayu di bagian samping masjid juga merupakan bangunan asli.

Sementara mimbar yang digunakan untuk khutbah juga masih asli sejak masjid ini berdiri.

"Jadi masih ada lagi yang merupakan bangunan asli. Mimbar ini sudah berumur ratusan tahun dan 6 pintu di samping masjid itu masih asli," ucapnya.

Menjadi masjid satu-satunya masjid pada masa itu, Rasyid mengklaim Masjid Al Anwar sebagai masjid tertua di kawasan Jakarta Timur.

"Ini sentral dakwah. Untuk Jakarta Timur ini masjid tertua. Dari 1700-an. Sebelumnya juga kemungkinan sudah ada," jelasnya.

Oleh sebab itu, banyak ulama yang datang silih berganti di masjid ini untuk mensyiarkan agama islam.

Selain itu, Rasyid menjelaskan mulanya masjid ini dicetuskan oleh Datuk Umar.

Banyaknya pejuang pada masa itu, turut membuat masjid ini sebagai tempat mengatur strategi melawan Belanda selain untuk syiar islam.

Oleh sebab makam Datuk Umar dan anaknya, Datuk Ali berada di dalam Masjid Jami Al Anwar.

"Tahun 50-an enggak ada Jakarta Timur adanya Jakarta Selatan Dua. Jadi dulu dibangun dan sederhana aja, seperti Masjid Demak karena ini memang Betawi, Demak dan Banten satu guru," jelasnya.

"Kemungkinan dibangun oleh keturunan atau trah-trah, baik Sultan Banten maupun Cirebon. Sampai tahun 60-an orang dari mana-mana, seperti Cawang, Kayu Manis, Pulogadung salatnya di sini," tandasnya. 

Sumber: Tribunjakarta.com, gpswisata.info

Rabu, 29 Juli 2020

Belajar Urban Farming dari Warga Duren Sawit

Petugas pemerintah pemkot Jakarta Timur melakukan pendampingan melakukan pertanian melalui konsep urban farming (pertanian kota) kepada warga RT 002/RW 014 Kelurahan Duren Sawit, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. (Foto : Pemkot Jakarta Timur)
Warga RT 002/RW 014 Kelurahan Duren Sawit, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur punya cara sendiri mengisi waktu untuk tetap produktivitas dalam melewati masa sulit pandemi Corona (Covid-19) dengan memajukan sektor pertanian melalui konsep urban farming (pertanian kota).

Sejak Juni lalu, warga memulai menggarap lahan tidur seluas 1.000 meter persegi dan menyulapnya menjadi hijau. Selain menanami lahan, warga juga menggunakan lahan untuk membudidayakan ikan. 

Sayur mayur seperti terong, bayam, kangkung, labu, selada dan pakcoy berderet rapi. Di sampingnya, berember-ember lele dipelihara di taman RT002. 

Ketua RT 002/RW 014 Kelurahan Duren Sawit, Mustara Musa, mengatakan, konsep urban farming ini bisa membantu warga di bidang ketahanan dan kemandirian pangan, terlebih saat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini.

"Ini berdasarkan semangat kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah untuk terus mewujudkan masyarakat agar tetap produktif," katanya kepada tim Sudin Kominfotik Jakarta Timur di lokasi, Senin (29/6/2020) seperti dikutip dari halaman resmi Pemerintah Kota Jakarta Timur. 

Ia melanjutkan, keberadaan taman hijau ini telah dirasakan bahkan menuai dukungan seluruh warganya. Selain mendekatkan diri sendiri dengan alam, urban farming juga dapat merekatkan hubungan sosial yang telah diterapkan dalam lingkungan bertetangga.

Tak hanya itu, urban farming dapat menguatkan rasa kebersamaan dan menciptakan budaya gotong royong dalam lingkungan masyarakat kota.

Sementara itu, Lurah Duren Sawit, Irwan Ilyas, menyambut baik akan keberadaan taman hijau yang menjadi ruang terbuka hijau yang produktif, sebagai salah satu cara alternatif pemenuhan kelangsungan pangan masyarakat.

Ia menilai, keterbatasan lahan akan di wilayah perkotaan bukan berarti kegiatan bercocok tanam melalui metode urban farming pun terhenti.

"Kita, pemerintah kelurahan Duren Sawit akan terus mendukung. Ke depan kita akan terus mendorong kreativitas masyarakat dengan semangat berkolaborasi menuju maju kotanya bahagia warganya," pungkas Irwan. 

Memang, tren urban farming mengalami peningkatan signifikan selama pemkot DKI menjalankan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Jadi begini itu terbukti banget selama PSBB, permintaan benih meningkat sekali," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) DKI Jakarta Darjamuni seperti dikutip oleh Media Indonesia.

Selama tiga bulan belakangan ini atau saat masa PSBB di mana banyak orang Work From Home (WFH), terjadi peningkatan urban framing untuk kebutuhan warga sehari-hari.

Sementara itu, Kepala Bidang Pertanian Dinas KPKP DKI Mujiati mengatakan bahwa walaupun belum terdata seberapa besar penambahan lokasi urban farming yang terjadi selama masa PSBB, pihaknya sudah mencatat sedikitnya ada sekitar 900 titik urban farming di Jakarta.

"Kalau orangnya ribuan, jadi jumlah pastinya karena kita hanya melihat titiknya, titiknya ada 600 Gang Hijau. Satu gangnya mungkin rata-rata 10 orang berarti sudah 6 ribu orang. Kemudian karang taruna itu ada 300 lokasi dengan satu lokasi kalau kita hitung 5 orang itu berarti 1.500 orang. Kemudian PKK dan di RPTRA," ungkap Murjiati.

Urban farming atau pertanian kota adalah konsep bertani dengan memaksimalkan lahan sempit di wilayah perkotaan yang dapat dilakukan di mana saja, seperti di atap rumah, dinding, pagar, halaman rumah, halaman sekolah, serta atap masjid.

"Wilayah rata-rata banyak itu timur, selatan, barat karena memang secara lokasi lebih luas. Contohnya kayak sawah malah di utara. Di Jakbar itu di atas masjid, Tebet juga," jelas Murjiati.

Urban farming memiliki banyak sekali manfaat yang sangat positif, yaitu membuat kondisi lingkungan menjadi lebih hijau dan asri, serta dapat juga untuk memenuhi kebutuhan sendiri akan sayur-mayur. Selain itu, aktivitas urban farming juga memilki nilai edukatif bagi anak-anak dan generasi muda untuk memperkenalkan kecintaan pada lingkungan.